hai hai Im backkkkkkk. setelah sekian lama menghilang. wuehehehehe
banyak banget yang udah terjadi.......
1.aku udah lulus
2.aku diterima di kedokteran hewan universitas brawijaya
3.aku jomblo (wakakakak ga penting amat)
4.aku udah lupa kelly. hehehehe
5.lagi suka2nya sama boyband baru sm*sh ganteng2 banget deh =D
6.lagi suka2nya baca the mortal instruments trilogy. city of bones, city of ashes, city of glasses.
7.juga lagi suka sama pengguna twitter @poconggg
ntar deh gue bahas si poconggg. sekarang gue lagi pengen bahas novel the mortal instruments: city of bones bikinan casandra clare.
sejarahnya, gue beberapa bulan lalu jalan jalan ke toko buku trus liat ada novel city of bones. dan gue sekilas liat aja udah tertarik banget. covernya cowok setengah badan trus di badannya ada tandanya gitu..
Di City of Bones kita langsung disuguhi entrance bergaya sinema, dengan mengedepankan suspense sebagai penarik minat.
Lembar demi lembar, semakin membuat terpikat dengan alurnya yang cepat, tapi tidak kehilangan ruh young adult novel yang lincah dengan dialog-dialog cerdas. Kecepatan bertutur novel yang terjemahan bahasa Indonesianya menghabiskan 664 halaman ini membuat kita pada akhirnya takjub, karena ternyata kisahnya hanya berlangsung sekitar seminggu. Bandingkan deh dengan serial Harry Potter dengan ketebalan yang nyaris sama. Ceritanya rata-rata memakan satu tahun ajaran.
Kisah City of Bones dimulai dengan ‘penglihatan’ baru Clary (hampir 16 tahun) yang mengantarnya jadi saksi pembunuhan keroyokan yang dilakukan oleh tiga remaja. Tapi di saat yang hampir bersamaan, Clary sadar kalau ternyata cuma dia yang bisa melihat para pembunuh dan korbannya, sedang Simon-sahabatnya, dan penjaga keamanan klub tidak bisa. Kalau aku di posisi Clary, aku bakal menyangka sedang kena gejala awal skizofrenia :D .
Kebingungan Clary mulai terjawab dengan terjadinya peristiwa-peristiwa heboh setelahnya. Ibunya yang tiba-tiba hilang, munculnya Pembuas dan Yang Terabaikan, perkenalan resminya dengan geng Pemburu Bayangan remaja: Jace, Alec, dan Isabelle, serta guru mereka Hodge, dan riwayat hidup ibunya yang ternyata rumit.
Semua tokoh digambarkan secara detail, semua kisah ada latar belakangnya. Membawa petualangan Clary, Simon, dan para Pemburu Bayangan muda ke Piala Mortal dan mantan Pemburu Bayangan-Valentine-yang jahat-yang berniat menguasai Piala Mortal untuk menciptakan ras nephilim (setengah manusia setengah malaikat) baru untuk membasmi penghuni dunia bawah lainnya seperti manusia serigala, peri, vampir, dll.
Seperti kisah-kisah remaja lain, kurang asik jika tanpa bumbu romance. Maka di tengah kegemparan selama seminggu, Clary menemukan dirinya naksir Jace, si Pemburu Bayangan nyebelin yang sombong tapi tangkas. Apalagi ternyata Jace tak segan-segan mempertaruhkan nyawanya untuk menyelamatkan Clary, dan kayaknya memiliki perasaan yang sama ke Clary.
Romance di buku ini juga diwarnai cinta segitiga-cinta segitiga (ada banyak soalnya) antara Clary-Jace-Simon, Clary-Jace-Alec, dan Clary-Simon-Isabelle. Belum lagi cinta segitiga yang melibatkan generasi sebelumnya: Jocelyn-Luke-Valentine. Pokoknya seru banget.
Setiap cerita pasti ada cacatnya. Nah, di tengah hebohnya alur cerita, aku menemukan satu kebetulan yang agak mengganggu. Kenapa keberadaan Jocelyn bisa ketahuan Valentine setelah ia berhasil ngumpet di New York selama lebih dari 15 tahun? Kenapa waktunya bersamaan banget dengan datangnya ‘penglihatan’ Clary? Padahal penyebab ‘penglihatan’ itu hanya karena jadwal mantra yang tidak ditepati. Semoga sih ‘gangguan’ ini punya penjelasan masuk akal di buku-buku selanjutnya.
Tapi di luar itu semua dan banyaknya salah ketik serta beberapa terjemahan yang tidak perlu (contoh: sofa cinta yang pasti dari love seat-hal. 57) dan malah bikin bingung, buku ini bagus banget. Nggak sabar nunggu seri-seri berikutnya dari kisah Clary dan Jace.
harganya waktu itu sekitar 89.000. kaga tau kalo sekarang. semoga film ini cepet difilmin. ntar aq yang maen. wkwkwkwkwkwk :p *ditimpuk casandra clare*
thanks for reading. will post asap :D